KENDARI – Universitas Muhammadiyah Kendari menorehkan prestasi gemilang di kancah kompetisi internasional. Tiga mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kesehatan berhasil meraih medali emas dalam Kompetisi Inovasi Kesehatan Asia Tenggara (ASEAN Health Innovation Challenge) 2026, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada 5-7 April 2026 lalu. Pencapaian luar biasa ini menandai momentum penting bagi pengakuan akademik institusi di tingkat regional.
Tim yang terdiri dari Siti Nurhaliza (Program Studi Kesehatan Masyarakat), Muhammad Rizki Pratama (Program Studi Keperawatan), dan Devi Suryantini (Program Studi Gizi), mengalahkan lebih dari 47 tim peserta dari 12 negara Asia Tenggara dengan proyek inovasi bertajuk “Smart Health Monitoring System for Rural Communities” (Sistem Pemantauan Kesehatan Cerdas untuk Komunitas Pedesaan).
Inovasi yang dikembangkan selama enam bulan ini menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT), analitik data, dan pendekatan kesehatan holistik untuk mengatasi kesenjangan akses pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Sistem tersebut telah diuji coba di tiga desa di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan hasil yang mengesankan.
“Kami sangat bangga dengan pencapaian mahasiswa kami,” ujar Prof. Dr. Husnul Khotimah, M.Kes., Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam konferensi pers di Aula Utama Kampus, Kamis (11/4/2026). “Prestasi ini membuktikan bahwa meskipun kami berlokasi di daerah, komitmen kami terhadap excellence dalam pendidikan dan penelitian setara dengan universitas besar di pusat negara.”
Latar Belakang Inovasi
Gagasan proyek bermula dari observasi mendalam yang dilakukan ketiga mahasiswa terhadap kondisi kesehatan masyarakat di Sulawesi Tenggara. Data Kementerian Kesehatan 2025 menunjukkan bahwa 34 persen masyarakat di daerah terpencil Sulawesi Tenggara masih memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan berkualitas.
“Kami melihat banyak kasus penyakit yang sebenarnya bisa dicegah atau ditangani lebih dini jika ada sistem monitoring yang efektif,” jelas Siti Nurhaliza, ketua tim penelitian, saat diwawancarai di Ruang Inovasi Fakultas Ilmu Kesehatan. “Keterbatasan akses informasi kesehatan dan tenaga medis menjadi tantangan utama di komunitas pedesaan.”
Dengan bimbingan Dr. Andi Kurniawan, M.Sc. (dosen Kesehatan Masyarakat) dan Dr. Pratama Wijaya, S.Kom., M.T. (dari Fakultas Teknologi Informasi Unismuh Kendari), tim mulai mengembangkan solusi teknologi yang sederhana namun efektif. Mereka berkolaborasi dengan Puskesmas Desa Wanci, Puskesmas Desa Waode, dan Puskesmas Desa Lende untuk mengimplementasikan sistem.
Desain dan Fungsi Sistem
Smart Health Monitoring System yang dikembangkan terdiri dari tiga komponen utama: hardware berupa sensor kesehatan yang dapat mengukur tekanan darah, detak jantung, kadar gula darah, dan oksigen dalam darah secara real-time; aplikasi mobile yang user-friendly dengan interface berbahasa lokal; dan dashboard analitik untuk tenaga medis dan administrator kesehatan.
“Keunikan sistem kami adalah skalabilitasnya dan biaya implementasi yang rendah,” kata Muhammad Rizki Pratama, yang menangani aspek implementasi klinis. “Setiap sensor hanya memerlukan investasi kurang lebih 500 ribu rupiah, dan dapat terhubung dengan smartphone biasa melalui teknologi Bluetooth. Data kemudian tersimpan di cloud server dengan enkripsi tingkat tinggi untuk menjamin keamanan privasi pasien.”
Dalam fase uji coba selama empat bulan di tiga desa pilihan, sistem telah membantu mengidentifikasi 23 kasus risiko kesehatan yang sebelumnya tidak terdeteksi. Devi Suryantini, yang berfokus pada aspek nutrisi dan gizi, berhasil mengintegrasikan fitur rekomendasi diet personal berbasis data antropometri dan hasil lab.
“Kami juga mengembangkan modul edukasi kesehatan yang disesuaikan dengan konteks budaya lokal,” tambah Devi. “Misalnya, rekomendasi pola makan tidak hanya berdasarkan standar medis, tetapi juga mempertimbangkan ketersediaan sumber daya pangan lokal dan preferensi kuliner masyarakat.”
Proses Kompetisi dan Pencapaian
Perjalanan menuju medali emas di Bangkok dimulai ketika tim Unismuh Kendari lolos seleksi nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada Januari 2026. Dari 156 proposal yang masuk dari seluruh Indonesia, hanya 12 tim yang berhak mewakili negara di kompetisi internasional.
Persiapan intensif dilakukan selama tiga bulan. Tim melakukan presentasi berulang kali, menyempurnakan prototype, mengumpulkan data empiris yang solid, dan menyiapkan materi presentasi dalam bahasa Inggris. Dukungan penuh dari Universitas Muhammadiyah Kendari, termasuk pendanaan sebesar 150 juta rupiah dari Dana Riset Kolaboratif, memungkinkan proses persiapan berjalan optimal.
“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan pimpinan universitas,” ujar Dr. Andi Kurniawan, pembimbing akademik utama. “Tanpa dukungan institusi, mahasiswa kami tidak akan bisa mengembangkan ide kreatif mereka menjadi solusi konkret yang berdampak.”
Di Bangkok, tim Unismuh Kendari berkompetisi dengan pesaing kuat dari universitas terkemuka di Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Penilaian meliputi originalitas inovasi, feasibility implementasi, dampak sosial, sustainability, dan presentasi.
“Juri sangat terkesan dengan pendekatan holistik kami yang menggabungkan teknologi, aspek kesehatan masyarakat, dan gizi dalam satu ekosistem,” cerita Siti Nurhaliza dengan wajah berbinar. “Mereka juga memuji komitmen kami untuk uji coba langsung di lapangan, bukan hanya konsep teoritis di atas kertas.”
Tim berhasil unggul di putaran final, mengalahkan finalis lainnya dengan skor 94 dari 100 poin. Hadiahnya mencakup trofi emas, sertifikat internasional, dana hibah penelitian sebesar 500 juta rupiah, dan kesempatan untuk mempresentasikan hasil di Journal of Southeast Asian Health Innovation.
Dampak dan Pengembangan Ke Depan
Presiden Universitas Muhammadiyah Kendari, Ir. H. Nursam Abdullah, M.Eng., mengakui bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari ekosistem akademik yang terus dikembangkan. “Kami telah meningkatkan investasi dalam riset dan inovasi sejak 2023. Prestasi ini menunjukkan bahwa strategi tersebut tepat sasaran dan memberikan hasil nyata,” ucap Nursam dalam sambutannya saat acara penyambutan tim juara di halaman rektorat, Jumat (11/4/2026).
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan berkomitmen untuk mempercepat scale-up sistem ke lebih banyak desa. “Kami sudah menjalin kerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara untuk implementasi di 10 desa tambahan pada tahun ini,” informasi Prof. Dr. Husnul Khotimah. “Selain itu, kami membuka lowongan untuk 15 mahasiswa baru yang tertarik bergabung dalam proyek pengembangan lebih lanjut.”
Tidak hanya itu, peluang commercialization juga terbuka lebar. Beberapa investor lokal dan nasional telah menunjukkan minat untuk mendukung startup teknologi kesehatan berbasis inovasi mahasiswa ini. “Kami mendorong tim untuk mendaftarkan hak paten dan membentuk social enterprise,” kata Prof. Husnul Khotimah.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, dr. Syamsudin Nur, mengapresiasi kontribusi akademisi dalam memecahkan masalah kesehatan publik. “Inovasi dari Unismuh Kendari ini sangat relevan dengan program akselerasi kesehatan digital yang kami jalankan. Kami akan mendukung penuh implementasinya,” ujar Syamsudin dalam keterangan tertulis yang dikirimkan kepada media.
Inspirasi bagi Mahasiswa Lain
Prestasi ketiga mahasiswa menjadi inspirasi bagi rekan-rekan mereka. Di Fakultas Ilmu Kesehatan, permohonan untuk mengikuti program riset dan inovasi meningkat signifikan. “Melihat senior kami berprestasi tinggi membuat kami termotivasi untuk juga berkontribusi pada inovasi kesehatan,” ujar Rini Saputra, mahasiswa semester enam Program Studi Kesehatan Masyarakat.
Universitas juga merencanakan pembentukan Innovation Hub khusus di Fakultas Ilmu Kesehatan. “Kami ingin menciptakan ekosistem yang mendorong mahasiswa untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dan mengembangkan solusi inovatif,” jelaskan Prof. Dr. Husnul Khotimah.
Selain itu, Unismuh Kendari mempromosikan partisipasi lebih luas dalam kompetisi internasional. “Kami sudah mengidentifikasi lima proyek riset lain yang siap dilombakan dalam kompetisi internasional tahun depan,” ungkap Rektor.
Penutup
Pencapaian Siti Nurhaliza, Muhammad Rizki Pratama, dan Devi Suryantini adalah bukti nyata bahwa inovasi dan prestasi tidak memandang lokasi geografis. Dari Kendari, sebuah kota di pedalaman Sulawesi Tenggara, muncul solusi kesehatan yang relevan untuk seluruh Asia Tenggara.
Universitas Muhammadiyah Kendari terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dengan dukungan pemerintah, industri, dan masyarakat, institusi ini yakin dapat melahirkan lebih banyak inovator dan pemimpin masa depan yang siap mengatasi tantangan sosial.
Ketiga mahasiswa berprestasi telah membukakan pintu peluang baru bagi institusi dan generasi mahasiswa berikutnya. Semoga semangat inovasi dan dedikasi mereka terus menginspirasi seluruh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Kendari untuk terus berinovasi dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan masyarakat global.
—
Berita ini dikonfirmasi langsung dengan narasumber dari Universitas Muhammadiyah Kendari. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Humas Unismuh Kendari di (0401) 3190066.